Artikel Tentang Indigo

Rekan-Rekan yang Berbahagia:

Dengan pasti saya bisa menyatakan saat ini bahwa
sistem pendidikan formal yang kita miliki, dari SD
sampai dengan Perguruan tinggi, tidak mampu untuk
mendidik anak indigo.

Anak Indigo adalah sebagian dari mereka lahir di
periode tahun 1980-an dan memiliki aura berwarna nila
dengan ciri-ciri kemampuan spiritual bawaan dan sikap
non-kompromistis terhadap segala sesuatu yang
dinilainya bersifat pemaksaan. Penelitian tentang
fenomena anak indigo ini dimulai oleh seorang psikolog
di Amerika Serikat, dan setelah itu diteruskan oleh
media massa di AS dan negara-negara maju lainnnya,
yang akhirnya memunculkan “boom” indigo dengan segala
komersialismenya.

Di Indonesia, Mbak Maria Hartiningsih, seorang
psikolog, adalah orang pertama yang menyorot fenomena
ini dalam sebuah artikel yang lumayan besar di harian
Kompas (Mbak Maria adalah seorang redaktur Kompas).
Dengan bekal hubungan pribadi yang cukup intens dengan
Vincent Liong selama periode waktu yang cukup lama,
Mbak Maria percaya bahwa Vincent Liong, yang menjadi
studi kasus di artikelnya itu adalah seorang anak
indigo.

Dr. Erwin Kesuma, Sp.A, seorang psikiater anak di
Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Gatot Subroto dan
Klinik Provita kemudian memperoleh banyak pertanyaan
dari wartawan dan wartawati berbagai media massa yang
melihat adanya sesuatu yang bisa menghebohkan disana.
Heboh karena anak-anak indigo ini bisa menggunakan
kemampuan supranatural mereka untuk hal-hal tertentu.
Untuk kemanusiaan, tentu saja: berupa penyembuhan,
terawangan, dan sebagainya yang, kita tahu selalu
menempati posisi cukup menarik perhatian bagi
masyarakat kita yang relijius ini. Dr. Erwin inilah
yang kemudian dinobatkan oleh media massa sebagai
seorang dokter ahli indigo.

Tetapi, Dr. Erwin tidak mau memberikan pernyataan
tertulis bahwa anak tertentu adalah seorang anak
indigo. Saya pernah bertanya langsung kepada Dr.
Erwin, dan ia menjelaskan dengan tegas bahwa yang
diperlukan hanyalah mencocokkan ciri-ciri yang muncul
di seorang anak dengan daftar dari ciri-ciri anak
indigo yang akan diberikan oleh Dr. Erwin kepada siapa
saja yang meminta. Apabila banyak ciri-cirinya yang
cocok, maka bolehlah anak itu disebut sebagai seorang
anak indigo.

Apakah Vincent termasuk anak indigo menurut Dr. Erwin?
Dari percakapan antara saya dengannya, saya bisa
melihat bahwa memang demikianlah anggapan dia dan para
staf Klinik Provita yang banyak menangani anak-anak
“indigo”. Kata indigo disitu saya tulis dalam tanda
kutip karena yang ditangani oleh Klinik Provita adalah
anak-anak kecil yang dianggap bermasalah oleh orang
tuanya, dan indigo adalah kata yang positif untuk
dipakai dalam terapi anak; walaupun sebenarnya
anak-anak itu bukan anak indigo. Jadi, telah ada salah
kaprah di bidang terapi. Salah kaprah yang agaknya
sengaja demi komersialisme (tapi itu soal lain,
sehingga saya tidak akan mengulasnya disini).

Sejak saat itu sampai sekarang, sudah cukup banyak
liputan media massa tentang anak-anak indigo. Terakhir
saya dengar Anissa (seorang anak indigo berusia 6
tahun yang berbicara dengan Bahasa Inggris kepada
semua orang walaupun kedua orang-tuanya asli
Indonesia) juga muncul di “Dorce Show”. Itu acara
entertainment untuk publik yang haus hiburan, tentu
saja.

Sampai saat ini saya tidak melihat adanya sesuatu yang
positif muncul dari berbagai liputan media massa
tentang anak-anak indigo ini. Dari seminar yang
diadakan oleh Metafisika Studi Club, tindak lanjutnya
juga nihil. Kalaupun ada, paling jauh adalah
penerimaan secara pasif bahwa anak-anak indigo itu
memiliki kemampuan supranatural untuk membantu sesama.
Cuma itu saja.

Sistem pendidikan formal kita juga belum pernah
memberikan pernyataan resmi tentang apa yang akan
dilakukannya terhadap anak-anak indigo yang tentu saja
harus bersekolah.

1) Apakah anak indigo harus mengikuti sistem
pendidikan formal biasa walaupun tersendat-sendat?
2) Apakah sistem pendidikan kita yang harus
mengakomodasi anak indigo dengan keharusan menciptakan
SLB (Sekolah Luar Biasa) bagi anak-anak indigo?
3) Apakah anak indigo harus dimengerti sebagai
anak-anak dengan kemampuan di atas normal atau di
bawah normal? Ini penting sekali untuk dijawab oleh
sistem pendidikan kita.
4) Apakah sebaiknya dibuat suatu kompromi antara
sistem pendidikan umum kita untuk mengakomodasi
anak-anak indigo? Kompromi disini berarti akomodasi
“middle ground”. Bukan penciptaan SLB, tetapi program
khusus di sekolah-sekolah biasa (dari SD s/d Perguruan
Tinggi).

Program khusus untuk mengakomodasi anak-anak indigo di
sistem pendidikan kita tidak harus berarti penciptaan
program yang mahal dengan SDM (Sumber Daya Manusia)
yang canggih. Khusus itu tidak berarti harus mahal.

Saran saya sebagai seorang pengamat indigo adalah
penciptaan program khusus yang bersifat manusiawi, dan
murah dari segi biaya. Cukup disediakan beberapa orang
SDM yang secara bersamaan menangani seorang anak
indigo di jenjang pendidikan tertentu. Dua atau tiga
orang pengajar untuk secara bersamaan menangani
seorang anak indigo; dan dengan komitmen itu, tetap
bisa memberikan waktu kepada tugas-tugas mengajar di
kelas-kelas biasa.

Cuma sedikit ekstra waktu dan sedikit ekstra biaya
yang diperlukan untuk melancarkan sistem pendidikan.

Mungkin itu yang bisa dilakukan oleh Fakultas
Psikologi, Universitas Atmajaya, untuk menangani kasus
indigo pertama di Indonesia. Apapun kebijakan yang
akan diambil oleh Fakultas Psikologi, Universitas
Atmajaya, dan apapun hasilnya terhadap Vincent Liong
sebagai anak didiknya, itu akan menjadi studi kasus
yang bisa dicontoh atau dihindarkan oleh mereka yang
bergerak di bidang pendidikan kita di masa datang.

Kalau menangani anak indigo saja tidak bisa, bagaimana
pula sistem pendidikan kita akan menangani anak-anak
kristal (yang muncul dari antara mereka yang lahir di
tahun 1990-an)?

Damai di Bumi,
Leonardo Rimba

Penulis adalah seorang pengamat fenomena anak indigo
lulusan Universitas Indonesia dan the Pennsylvania
State University, US. Dia bisa dihubungi di e-mail
<[EMAIL PROTECTED]>. Melalui HP, di
0818-183-615.

Published in: on April 4, 2009 at 3:20 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://biocassanova.wordpress.com/2009/04/04/artikel-tentang-indigo/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: